Solar Subsidi Langka Pertanda Ekonomi Mulai Bergerak dan Menipisnya Kuota

18 October 2021
Diperbarui 18 October 2021

Beberapa hari ini media diramaikan dengan adanya kelangkaan BBM Solar Subsidi hampir di seluruh wilayah pulau Sumatera seperti di Aceh, Sumatera Utara, Jambi, Lampung dan beberapa provinsi lain.

Namun menurut Direktur Executive Energy Watch, Mamit Setiawan, kelangkaan ini lebih disebabkan karena mulai tumbuhnya perekonomian pasca pembatasan yang kemarin dilakukan karena pandemik Covid-19.

Patut disyukuri bahwa saat ini roda perekonomian kembali tumbuh setelah cukup lama dilakukan pembatasan oleh pemerintah. Hal ini menyebabkan terjadinya permintaan solar subsidi yang cukup signifikan. Sedangkan di sisi lain solar subsidi itu dibatasi oleh kouta yang ditetapkan oleh BPH Migas,” kata Mamit Setiawan dalam keterangan tertulisnya, Minggu (17/10/2021).

Di sisi lain, kata Mamit, Pertamina dalam hal ini sub holding Pertamina Patra Niaga (PPN) menjaga agar sisa kouta yang ditetapkan oleh Pemerintah dan BPH Migas cukup sampai akhir tahun 2021 ini.

“Pertamina pastinya akan menyesuaikan sisa kouta setiap provinsi agar tidak melebihi batas yang ditentukan. Pertamina tidak bisa serta merta menambah kouta tanpa ada persetujuan ataupun perintah dari Pemerintah dan juga BPH Migas untuk menambah jumlah Solar Subsidi yang beredar karena terkait dengan penggantian dana subsidi yang diterima oleh Pertamina,” papar Mamit.

Ia juga menyampaikan bahwa seharusnya kritikan bukan diarahkan kepada Pertamina dalam hal ini Pertamina Patra Niaga, tapi harus diarahkan kepada pemerintah karena tidak ada kecepatan dalam mengambil tindakan akibat kelangkaan Solar Subsidi ini.

“Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan dan BPH Migas harus segera bertindak cepat dengan segera menyetujui atau meminta kepada Pertamina menambah kouta Solar Subsidi dan kelebihan kouta tersebut akan dibayarkan dalam APBN 2022 sehingga tidak menimbulka kepanikan di masyarakat karena kelangkaan ini,” jelas Mamit.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa kenaikan harga CPO sepanjang 2021 ini bisa menjadi penyebab ketersediaan stock BBM Solar Subsidi terganggu. Hal ini disebabkan karena untuk BBM jenis tersebut merupakan program Solar B30.

“Kenaikan harga CPO yang melejit sampai 75% jika dibandingkan tahun 2020 ikut mendorong kenaikan harga FAME sebagai bahan campuran B30 ini. Jadi, pemerintah harus membuat regulasi harga atau DMO CPO untuk program biodiesel sehingga tidak menambah beban produksi bagi Pertamina jika harga FAME sedang mengalami kenaikan,” tukasnya.

Mamit juga mengusulan agar saat harga FAME mengalami kenaikan, maka Pertamina bisa diberikan kelonggaran untuk menjual BBM solar subsidi murni tanpa dicampur dengan FAME.

“Ini penting demi kelancaran mobilitas kendaraan umum serta demi membantu perekonomian yang sudah mulai tumbuh ini. Jika nanti harga FAME sudah turun, maka Pertamina wajib kembali menjual BBM solar subsidi B30 ke masyarakat,” lanjut Mamit

Dia juga menyoroti soal belum adanya aturan yang jelas mengenai siapa saja yang berhak untuk menggunakan BBM Solar Subsidi hingga saat ini. Karena hal ini yang menyebabkan kouta solar subsidi melonjak dari batas yang ditentukan.

“Para pengusaha tambang, pengusaha perkebunan, mobil pribadi yang mewah semua bisa membeli solar subsidi tanpa ada larangan yang jelas. Dan hanya dibatasi maksimal 30 liter per hari per kendaraan,” cetusnya.

“Ini jelas salah. Harusnya solar subsidi itu untuk angkutan umum, angkutan sembako dan juga angkutan lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Pemerintah harus mengevaluasi terkait dengan tidak adanya pembatasan pengguna solar subsidi ini,” pungkasnya.(SL)

Sumber :
Situs Energi
LABEL : , ,

BAGIKAN ARTIKEL

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BERITA TERKAIT

KANTOR PUSAT
GRAHA APTRINDO

Jl. Raya Sulawesi No.23

Tanjung Priok, Jakarta Utara 14310

Telp : 02143900464 / Fax : 02143900465
Lihat Peta
LAINNYA
LEGALITAS
Asosiasi berbadan hukum resmi terdaftar di KEMENKUMHAM berdasarkan SK AHU-00667.60.10.2014
Hak Cipta © 2021 Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia
magnifiercrosschevron-upchevron-down