Tarif Tol Trans Jawa Bakal Naik 28 Persen

55
2 July 2021
Diperbarui 2 July 2021

Surabaya - Dua ruas tol Trans Jawa, yakni tol Solo-Ngawi dan Gempol-Pasuruan akan mengalami penyesuaian tarif dalam waktu dekat. Hal ini terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) internal terbatas yang dilaksanakan secara virtual, Jumat (2/7/2021).

Penyesuaian tarif masing-masing sebesar 28 persen tersebut tetap mempertimbangkan ekonomi berbagai level. Yakni sisi publik dan sisi investasi.

Staf Ahli Meteri PUR, Endra Atmawidjaja mengatakan penyesuaian tarif 2 tol trans jawa tersebut tetap melalui beberapa tahap. Yakni, sosialisasi manfaat, sosialisasi besaran tarif tol, dan sosialisasi waktu pemberlakuan tarif.

"Masing-masing tahapannya bisa disosialisasikan melalui FGD, media sosial. Dimana setiap tahapan BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) akan melaporkan evaluasi SPM (Standar Pelayanan Minimum) secara terbuka," kata Endra.

Penyesuaian tarif tersebut, tambah Endra, diharapkan tidak ada resistensi dan penolakan dari masyarakat sehingga penyesuaian tarif yang seharusnya berlaku tahun 2020 lalu bisa dilaksanakan tahun ini.

Untuk diketahui jalan tol Solo - Ngawi memiliki panjanh 90,12 kilometer. Sedangkan jalan tol Gempol - Pasuruan sepanjang 34,5 kilometer.

Sekretaris Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), Yongky Triono menyebutkan standar pelayanan minimum (SPM) kedua jalan tol tersebut yang sudah berjalan 2 tahun terakhir ini dinilai baik. Penilaian tersebut telah melaui uji perkerasan jalur utama, drainase, median.

"SPM lainnya juga melihat dari kecepatan tempuh rata-rata, aksebilitas, mobilitas, keselamatan, unit pertolongan, lingkungan, serta tempat istirahat (rest area)," jelas Yonky.

Berita SBY

Selain regulator, agenda konsultasi publik dalam rangka penyesuaian tarif jalan tol tersebut juga mengundang para Key Opinion Leaders dalam bidang kebijakan publik, transportasi, konsumen, serta ekonomi.

Kepala Dinas Perhubungan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Jawa Timur, Nyono yang mewakili Sekretaris Daerah Jawa Timur mengatakan pihaknya mendukung apapun kebijakan pemerintah. Namun, ia mengingatkan penyesuaian tarif jalan tol tersebut harus tetap mengedepankan aspek sosial.

"Tekanan psikologis terhadapa kenaikan itu (tarif tol) akan semakin terasa. Apalagi dalam situasi saat ini (pandemi covid 19). Karena itu, sosialisasi harus intens sehingga konflik sosial bisa diminimalisir," tegas Nyono yang juga Plt Kepala Dinas PU Bina Marga Jawa Timur ini.

Ia juga berpesan kepada BUJT untuk memperbaiki sejumlah titik ruas jalan tol Gempol - Pasuruan.

"Banyak ditemukan sambungan jalan- jembatan yang tidak lansam. Jika dilalui kendaraan dengan kecepatan tinggi akan mumbul (terbang)," pesannya.

Dibidang Transportasi, Prof Ludfi Djakfar menjelaskan penyesuaian tarif kedua ruas jalan tol ini pengelola diusahakan agar masih menyisakan keuntungan. "Namun kenaikan tidak selalu menaiikan revenue bagi pengusahaan tol," kata dosen Universitas Brawijaya Malang ini.

Ia mencontohkan revenue pengusahaan tol Mojokerto - Kertosono tahun 2019 tidak berbanding lurus. Karena kondisi kinerja jalan tol tersebut tidak mendukung jalan nasional disekitarnya.

"Oleh sebab itu, jalan eksisting sekitarnya harus mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan penyesuaian tarif," tegasnya.

Selain bidang transportasi, Pakar Komunikasi Publik Universitas Airlangga Surabaya, Suko Widodo berpesan penyesuaian tarif kedua ruas tol tersebut tidak akan membawa perubahan yang signifikan.

"Bagaimana dengan opini masyarakat terhadap citra Jasa Marga dimasa ekonomi sulit saat ini. Dan harus benar-benar dihitung dan jangan sampai mendapat respon negatif," kata Suko Widodo.

Sementara itu, disektor riil diwakili Ketua DPC Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Surabaya, Putra Lingga Tan berpendapat tarif golongan IV dan V khusus truk angkutan barang dirubah menjadi golongan I. Sehingga kedepannya semua kendaraan truck seperti trailer bisa melalui jalan tol dan manfaatnya bisa dirasakan dalam memperlancar arus logistik nasional.

"Saya usul untuk semua golongan boleh naik tapi pengolongannya yang di rubah biar truk masuk tol. Contoh sekarang mobil kecil golongan satu. Kedepannya truck trailer yang menjadi golongan satu sedangkan mobil pribadi menjadi golongan empat yang paling mahal. Sehingga logistik murah dan efisiensi dan tol tidak mubasir yg sdh dibangun," tegasnya. (ari/aptrindo_sby)

LABEL : ,

BAGIKAN ARTIKEL

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

BERITA TERKAIT

KANTOR PUSAT
GRAHA APTRINDO

Jl. Raya Sulawesi No.23

Tanjung Priok, Jakarta Utara 14310

Telp : 02143900464 / Fax : 02143900465
Lihat Peta
LAINNYA
LEGALITAS
Asosiasi berbadan hukum resmi terdaftar di KEMENKUMHAM berdasarkan SK AHU-00667.60.10.2014
Hak Cipta © 2021 Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia
magnifiercrosschevron-upchevron-down